I know everything, but I don't know my mind
Hello Blog
It’s been a long time ago that I had a look at this blog. I forgot the password! See you back soon.
Catatan Post Mortem
Hari ini ibu saya resmi 33 hari jadi almarhumah. 12 Mei 2012; tepat 7 minggu setelah saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 dan dikabari bahwa ibu saya sehat walafiat. Tepat 5 minggu setelah diagnosa kanker payudara pertama kali diucapkan oleh dokter. Tepat 4 minggu setelah hasil X-thorax, USG hati, bone scan dan histologi patologi keluar lengkap. Tepat 4 minggu setelah ibu dibawa pulang ke rumah saja karena dunia medis tidak bisa menawarkan apa-apa selain perawatan paliatif.
Dan ibu saya pun memilih pergi 3 hari setelah saya memutuskan untuk kembali ke negeri antah-berantah. Satu hari setelah saya mengabarkan bahwa saya sudah dapat tanggal untuk maju sidang PhD. 15-20 menit setelah saya bilang lewat telpon, sudah saya relakan kepergianmu, berangkatlah kapan saja.
Semua fase duka cita pun datang. Memangnya siapa saya ini maka bisa bilang saya pasti kuat dan tidak apa-apa? Semua akan datang pada waktunya. Dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan pergi dalam waktu singkat. Dalam heningnya malam dan dinginnya pagi, datang bagai ombak mengempas tiap hari. Biar pun fisik dipaksa diseret tiap pagi menuju lokasi kerja, realitas timbul tenggelam karena otak butuh waktu berduka cita. Dan pilihan jalan hidup saya tidak memberi tempat pada ilusi apalagi delusi. Tiap gelombang datang, hal terbaik yang bisa saya lakukan cuma menyebutkan situasi apa adanya; saya dalam fase penolakan, saya depresi. Dst.
Saat saya bilang ke seorang kawan, saya depresi, malah saya disuruh pergi olahraga. Tapi saya sedang depresi, kalau saya turuti kata otak alias emosi, tiap hari saya akan tidur sepanjang hari dan bukannya pergi ke kantor apalagi cerita bahwa saya depresi dengan setengah cengengesan setengah meringis. Tapi habituasi manusia memang berusaha mengalihkan perhatian dari kondisi saat ini, dan gerakan itu sendiri (termasuk olahraga) sudah terkenal berfungsi seolah-olah menutupi kesakitan; “O saya baik-baik saja, tidak apa-apa. Setelah olahraga saya akan jadi ceria. I’ll be just fine.”
Well, I am not fine. My mother just died.
Sehari-hari orang-orang susah menerima saat dikasih kabar bahwa seseorang sedang dalam kondisi buruk secara mental. Jadi malah sibuk mencarikan alternatif mengalihkan perhatian ke apa saja deh. Padahal mengalihkan perhatian macam ini cuma efek/ tipuan sementara, bukan solusi.
Dalam minggu-minggu terakhir ini saya belajar memaknai Jalan Tengah (Middle Way) dengan konteks pengalaman hidup baru; kehilangan.
Nirvana is not when suffering stops, but when suffering stops bothering you
Bukan eradikasi dukkha, tapi kerelaan untuk hidup bersama dengan dukkha. Saat dukkha tidak lagi ditolak apalagi dimaki-maki, tapi dibukakan pintu dan dipersilakan masuk.
This is the real atapi sampajano satima.
Menunggu Kapal karam

Setiap orang tentunya ingin bahagia. Walau kata bahagia itu sendiri seringkali rancu, dicampur aduk dengan kemapanan secara material. Di saat manusia mengalami hidup di mana beban dan tanggung jawab terus bertambah, meningkat pula kebingungan dan pencarian akan kebahagiaan.
Bukan satu dua orang bertanya,
“Bagaimana caranya hidup lebih bermutu?”,
“Bagaimana caranya menjadi manusia yang lebih baik?”
“Bagaimana caranya menemukan makna hidup?”
Komentar saya standar, “Meditasi. Itu cara yang paling efisien dan efektif.”
Respon yang diberikan penanya pun standar, “Hahaha, kayaknya gue belum butuh.”
Jadi kapan baru mau merasa butuh/ kepepet?
Seumpama belajar meditasi diumpamakan orang belajar berenang. Secara hidup ini penuh ketidakpastian, layaknya orang berlayar tiap hari bertemu badai di tengah laut. Apakah harus menunggu kapalnya karam, baru merasa butuh, baru mau belajar renang?
Jika saya bertemu seorang filsuf
Di dalam pesawat, saat mengetahui bahwa orang di sebelahnya seorang filsuf, maka ia pun bertanya,*
“Saya boleh tanya?”
“Boleh.”
“Ini pertanyaan filsafat. OK?”
“Tentu saja.”
“Saya suka seorang cowok. Sebaiknya saya sms atau imel dia?”
*disadur dari Gottlieb, A. (2010, spring edition). What philosophers believe: Anthony Gottlieb decodes an opinion poll. Intelligent Life, 3, 24-5.
Kata Hati
Kata seorang kawan sekembalinya ia dari 6 hari menjauhkan diri dari hiruk pikuk hidup a.k.a. retret,
… cita-citaku tercapai, bisa mendengarkan kata hati…
Jika benar adanya, maka itu adalah pencapaian luar biasa, karena manusia rata-rata jatuh bangun berjuang dalam kehidupan yang tidak terhitung banyaknya belum tentu bisa buat pernyataan macam itu.
Sang Buddha pun dalam kehidupan terakhirnya tidak tercerahkan secara instan dalam 6 hari.
Home(sick)
“Ah Harry, we have to stumble through so much dirt and humbug before we reach home. And we have no one to guide us. Our only guide is our homesickness.” (Steppenwolf by Hermann Hesse)
Harry, at a loss, suffered from chronic melancholia. He cried out his longing for home.
Hermann Hesse let the readers decide for themselves whether Harry did reach home in the end.
What/ where is home?
Is there home for everyone of us?
If there is none, why are we suffering from homesickness?
How about you?
Are you coming home?
Death
I looked Death in the eye,
there’s nothing monstrous or ugly to behold.
Death is as natural as Life.