Skip to content

Gila itu indah

September 4, 2007

Sekedar refleksi mengenai kegilaan itu sendiri, karena penulis melihat seorang kawan dalam proses kehilangan kewarasannya. Stempel gila dalam masyarakat awam yang disebut sebagai skizofrenia dalam dunia medis.

Orang gila adalah orang bahagia

Mereka hidup dalam dunia persepsinya sendiri, punya versi kebenaran sendiri (waham, delusi), yang menurut orang waras tidak sesuai dengan realita.

Tapi… bukankah sebenarnya setiap orang mengalami hidup dalam dunia persepsinya sendiri? Satu peristiwa dialami sebagai hal berbeda oleh tiap orang (coba cari film Akira Kurosawa yang berjudul Rashomon). Sehingga orang skizofrenia adalah contoh par excellence dari fenomena tersebut.

Ditambah fakta bahwa mereka tidak ikut permainan dalam masyarakat, i.e. masalah uang, kemapanan ekonomi, status sosial dll, maka mereka adalah orang-orang merdeka absolut.

“Kewarasan” dieliminasi alam karena dianggap sebagai hal yang tidak perlu (redundancy)

Dalam kasus skizofrenia, bisa berhipotesa bahwa kewarasan adalah hal yang tidak perlu, bahkan mungkin efeknya bisa lebih merusak daripada kegilaan itu sendiri, maka alam mengeliminasi kewarasan tsb.

Contohnya, jika orang skizofrenia ada fase kadang-kadang mengamuk, bukan tidak mungkin jika orang tersebut tetap waras, akan mengamuk terus-menerus. Hal ini akan menghabiskan energi sia-sia, baik dari segi fisik maupun mental. Belum lagi kerusakan material yang bisa terjadi. Jadi dalam kasus ini, kewarasan dieliminasi untuk membatasi efek destruksi tersebut.

Atau, waham itu perlu buat orang gila supaya hidup ini lebih “indah”, sehingga mereka tidak bunuh diri. Penulis pernah berhadapan dengan orang yang tidak berhasil bunuh diri (sudah mencoba, tapi keburu dibawa ke rumah sakit). Amit-amit deh vibrasi orang tsb, kesakitan mental luar biasa, bikin penulis pengen minggat saat itu juga.

Refleksi seadanya dalam proses mencoba memaknai kebijaksanaan alam, mencoba melihat kegilaan dengan kacamata lain, bukan melulu sebagai malapetaka (kagak bisa sembuh!), bukan melulu sebagai obyek olok-olok dan bisik-bisik dalam masyarakat, tapi sebagai proses alamiah dalam menciptakan keseimbangan (baru).

2 Comments leave one →
  1. September 5, 2007 00:35

    Ngomong-ngomong soal orang gila (dalam pandangan orang kebanyakan), di perempatan Kantor Pos Jogjakarta, pada suatu malam ada dua orang gila sedang ngobrol. Serius.

    Ketika orang yang waras (dalam pandangan orang kebanyakan) menegur mereka “kok orang gila bisa ngobrol”, kedua manusia yang sedang asyik ngobrol tersebut langsung ngeloyor pergi sambil ngomel-ngomel ^o^

    hueheheh *iseng mode on* Mas Yeni yg negor, atau yg ngobrol yak?

  2. October 20, 2011 12:47

    gila itu memang indah…………..
    aku sangat setuju,
    kita gila yuuukkk……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: