Skip to content

Naga Sapta di negeri orang

November 16, 2008

Keris legendaris Naga Sapta ada satu bercokol di Museum of Ethnography di Leiden, Belanda. Berjejer dengan keris-keris berkinatah emas bling-bling model Naga Sasra, pertama kali saya melihat Naga Sapta, status saya masih lugu ga tahu apa-apa soal keris.

Jadi ceritanya saya masuk ke ruangan besar khusus buat seni Indonesia, tahu-tahu saya merasa ada vibrasi yang menyapa saya. Pas saya dekati, ternyata keris Naga Sapta (waktu itu saya cuma pikir keris yang di ujung say “Hello”, jadi saya datangi pertama kali). Pas saya amat-amati ternyata kok kinatah emasnya tidak sebanyak Naga Sasra (haalaaah), jadi saya membatin dalam hati “Aduh, kasihan betul keris ini bocel-bocel emasnya”. Gubrak sekali deh!

Jadi buat yang ada kesempatan mampir ke Belanda, jangan cuma jalan-jalan ke Dam Square dan Zeedijk di Amsterdam, tapi coba mampir ke Leiden lihat keris ciamik yang tiada delapannya (dibuat 7 keris, namanya aja Sapta) di dunia ini.

16 Comments leave one →
  1. November 16, 2008 08:31

    saya baru denger nama Naga Sapta, perlu kebih banyak baca nih kayaknya😦

    duh pengen banget punya keris😀

  2. November 17, 2008 03:57

    Menyedihkan, waktu kuliah saya belajar Bahasa Belanda, menulis skripsi pun menggunakan sumber berbahasa Belanda [dengan susah payah tentunya], dan selama bertahun-tahun selalu merasa romantik dengan apapun yang berhubungan dengan Belanda. Dan saya belum kesampean ke Belanda!

    Jadi ceritanya saya masuk ke ruangan besar khusus buat seni Indonesia, tahu-tahu saya merasa ada vibrasi yang menyapa saya

    Hehehe…vibrasi gimana nih?😀

  3. November 17, 2008 09:55

    luk 7 maksudnya? di situ juga konon ada naskah2 rampasan dari mataram yg gak boleh dibaca sembarang orang.

  4. November 19, 2008 13:24

    @sandal ati-ati ntar nyasar beli keris resepsi, buatan Madura buanyaakk😀

    @gentoleskripsinya apa toh pake sumber bahasa londo? sejarah (filsafat)? soal vibrasi, itu sebaiknya tanya mbah SJ tuhhh😉

    @sitijenang di sana banyak barang dan naskah-naskah yang belum diteliti, masih nunggu ada ilmuwan aneh yg mau menghabiskan hidup buat analisa. Ga boleh dibaca sembarang gimana? Bisa masuk angin efeknya?

  5. November 19, 2008 19:42

    kata teman saya, orang jawa, dia aja gak boleh baca. ada yg boleh dibaca, tapi gak boleh nyalin isinya. kalo gak salah sih…

  6. November 20, 2008 11:21

    hmmm, karena ada mistiknya atau karena ada status khusus cuma untuk kalangan tertentu? Misal kayak tari Bedhoyo cuma boleh di’salin’ jenis tertentu dan jumlah penarinya ga boleh sama. Alasan ke-1: karena urusan sakral, yang ke-2: karena eksklusivitas keraton.

    kalo naskah perpustakaan Merapi-Merbabu gimana tuh?

  7. November 20, 2008 11:29

    bukan perpus kraton lah… yg di leiden itu.

  8. November 24, 2008 02:09

    .. sy pny keris satu, tp ga ad lekukanny mas 🙄

  9. November 24, 2008 09:36

    @ sitijenang wah saya belum sempat masuk kalo perpusnya😦, jam buka tidak bersahabat dgn orang yg tidak tinggal dekat Leiden. Gimana kalau SJ aja yg ngecek?

    @ jk emang ada keris yang luk lurus kok, misalnya dapur Tilam Upih

  10. November 24, 2008 10:51

    @empunya blog

    Sejarah. Apalagi kalo bukan sejarah? Manajemen?😀

  11. November 24, 2008 14:16

    @ gentole hmm… bisa juga toh manajemen? Belajar manajemen VOC, orang sedikit, ga sakti (sakti model Majapahit maksudnya), eh bisa bercokol ga diprotes lama banget di Nusantara… gimana tu caranya

  12. November 28, 2008 15:25

    omong-omong soal keris, ingatan saya malah kerap terlempar ke cerita Aji Saka, Empu Gandring, Joko Tingkir, Aryo Penangsang, Pangeran Sekar Seda Lepen, … *halah, banyak amit*:mrgreen:
    .
    Kalau tidak salah, de Graaf menulis soal ini komprehensif sekali, judul bukunya… ah, lupa, soal Mataram2 gitu🙄

  13. November 28, 2008 19:05

    @ frozen Maksudnya Hermannus Johanes de Graaf? Memang dia nulis banyak buku soal kerajaan jadul di Indonesia, tapi seingat saya ga pernah membahas soal keris secara khusus.

    Lucu juga baca disertasi dia soal kematian Kapten Francois Tack, status Untung Surapati sebagai pahlawan dipertanyakan. Coba baca postingan saya di sini

  14. Ratno permalink
    December 22, 2008 02:32

    Pengen lihat dan memiliki
    kan kita orang jawa

  15. January 11, 2009 15:58

    Ketika tentara Amerika menguasai Bagdad. Yang dilakukan lebih dula adalah menjarah museum. Itu juga yang dilakukan oleh Belanda di Indonesia. Banyak peninggalan2 sejarah baik kitab maupun pusaka yang dijarah dan dibawa kesana. Tabik…🙂

    =====
    banyak juga yang memang dijual! katanya lebih enak pegang duitnya daripada memelihara barangnya *halaaah*

  16. February 12, 2009 10:09

    yuk kita lestarikan warisan budaya tsb…khususnya tosan aji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: