Skip to content

Saya cape

November 7, 2008

Hari ini saya mau posting tulisan ga mutu. Saya cape… tiap hari baru setengah hari kerja rasanya sudah loyo. Kalau saya teruskan sampai sore hari, pulang ke rumah sudah tidak punya energi untuk melakukan kegiatan apa pun. Makan cepat-cepat, lalu terkapar di sofa mendengarkan gending Jawa atau musik relaksasi lainnya. Tidak ada konsentrasi buat membaca; baca buku mumet, baca artikel apa lagi.

Kalau kondisi lagi busuk kayak gini, jangan harap saya bisa menikmati nonton film Indies di film theater favorit, yang ada saya bengong karena tidak bisa mengikuti jalan cerita. Nonton TV? Bikin tambah pusing lihat berita tentang kriminalitas, perang dan bencana di mana-mana (lha masak mau memberitakan orang senang, bukan sensasi berita lagi namanya). Nonton opera sabun di TV? Ngabisin waktu dan energi saya, tambah cape lagipula tidak belajar apa-apa.

Bahkan saking capenya, saya kemarin membolos kelas yoga… padahal biasanya paling getol karena efeknya yoga bikin rileks. Tapi kalo fisik hancur model sekarang, keder juga kalo harus pose susah-susah. Bukannya rileks malah bisa-bisa keseleo.

Saya jadi mikir-mikir, apa saya ini (mulai menunjukkan gejala) burnout ya?

Di lingkungan kerja ada satu orang asing yang gejalanya juga keletihan luar biasa, tapi lebih parah dari saya. Bisa menghilang dari kantor berminggu-minggu. Kalo ditanya sakit apa, jawabnya tiap kali standar: demam, sakit kepala, ga ada energi. Bahkan waktu saya tanya eksplisit “Kamu kena flu?” (karena saat ini sedang musim flu). Jawabnya lagi-lagi demam dan sakit kepala. Lha itu kan tidak menjawab pertanyaan, padahal cukup jawab iya atau tidak, semua orang tahu gejala sakit flu seperti apa.

Di dalam review Job Burnout, disebutkan ada tiga dimensi rumusan tentang burnout: keletihan, kesinisan (menjaga jarak dengan pekerjaan) dan menurunnya efisiensi bekerja.

Kira-kira saya masuk kategori ga yah?
1. keletihan (jelas iya)
2. kesinisan (waduh definisinya saya masih bingung, nanti artikelnya perlu dibaca lagi dengan lebih teliti)
3. menurunnya efisiensi bekerja (jelas, fisik aja udah mogok kerja sama, apalagi kognisi… sudah mogok dari kemaren-kemaren)

Bikin agak-agak histeris… jadi saya burnout nih?!?

Kemaren dulu saya cerita ke tukang pijat langganan bahwa saya cape, ga ada energi. Eh dia malah nyeletuk, “Logis, ini emang waktunya orang-orang pada cape…”

Saya, “Lha, ngapain sih kita beramai-ramai pada burnout? Kayak jadi gila, tapi massal gitu lho! What are we doing to ourselves???”

6 Comments leave one →
  1. November 9, 2008 15:34

    been there, still there…😦

  2. November 9, 2008 22:23

    there is a way out🙂

  3. November 11, 2008 05:00

    Zen, drugs, suicide?

    No, thanks, bro.

  4. November 12, 2008 12:52

    hahaha, trus apa dong? Filsafat? Zizek aja miserable…
    lagipula saya tidak menganjurkan drugs atau suicide. Kalo Zen itu mah masalah selera, seneng agen lain ya silakan.. bahkan seneng Syekh Siti Jenar pun masih ada pengikutnya ;;)

  5. November 16, 2008 05:35

    Udah, zazen aja.😛

  6. November 19, 2008 13:25

    @ dana komentar maksudnya buat gentole atau yang punya blog nih?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: