Skip to content

Rapuh

September 23, 2007

Hari Minggu ini saya tiba-tiba ingin menyalakan televisi, begitu nyala ada orang sakit kanker sedang bercerita. Kepalanya botak karena kemoterapi, tubuhnya kurus kering, tapi wajahnya penuh kedamaian. Tidak disebutkan dia sakit kanker apa persisnya, mungkin saya sudah ketinggalan cerita latar belakang sebelumnya.

Ucapan laki-laki sekarat tersebut membuatku terdiam

Bukannya saya ingin menganjurkan orang-orang untuk sakit kanker. Baik kankernya sendiri maupun terapinya menyakitkan. Membiarkan tubuh saya dioperasi bukan lah hal menyenangkan, bukan sebuah permainan dalam pesta (party game). Tapi saya merasa bahwa sakit ini juga sebuah kado. Kado, yang mengingatkan saya akan kerapuhan manusia

2 Comments leave one →
  1. September 23, 2007 16:51

    Sayangnya kebanyakan kita harus dibuat sakit dulu ya mbak, agar sadar hal-hal tersebut..

    kalo sy liatnya (termasuk ngaca liat diri sendiri hehehe), udah bolak-balik dibikin sakit pun masih suka kena penyakit lupa, ga sadar-sadar. Kayak puasa aja, pas buka kan ngetawain diri sendiri, ‘wah baru laper/ haus udah rasa neraka, wah tadi pas siang-siang pengen makan segala rupa, pas buka kan porsi biasa aja udah kenyang.’ Eh besoknya lupa! Ngayal macem-macem lagi deh

  2. September 23, 2007 23:13

    *mode serius: on*
    sekali saja kita sadar bahwa kita memang rapuh, kita akan mensyukuri keberadaan kita didunia ini dengan semua apa yang kita miliki, cukup, tidak cukup*
    *mode serius: off*

    *mastiin campuran semen dan pasir pas, biar adukannya kuat*😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: