Skip to content

Catatan Post Mortem

June 14, 2012

Hari ini ibu saya resmi 33 hari jadi almarhumah. 12 Mei 2012; tepat 7 minggu setelah saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 dan dikabari bahwa ibu saya sehat walafiat. Tepat 5 minggu setelah diagnosa kanker payudara pertama kali diucapkan oleh dokter. Tepat 4 minggu setelah hasil X-thorax, USG hati, bone scan dan histologi patologi keluar lengkap. Tepat 4 minggu setelah ibu dibawa pulang ke rumah saja karena dunia medis tidak bisa menawarkan apa-apa selain perawatan paliatif.

Dan ibu saya pun memilih pergi 3 hari setelah saya memutuskan untuk kembali ke negeri antah-berantah. Satu hari setelah saya mengabarkan bahwa saya sudah dapat tanggal untuk maju sidang PhD. 15-20 menit setelah saya bilang lewat telpon, sudah saya relakan kepergianmu, berangkatlah kapan saja.

Semua fase duka cita pun datang. Memangnya siapa saya ini maka bisa bilang saya pasti kuat dan tidak apa-apa? Semua akan datang pada waktunya. Dan tidak ada jaminan bahwa mereka akan pergi dalam waktu singkat. Dalam heningnya malam dan dinginnya pagi, datang bagai ombak mengempas tiap hari. Biar pun fisik dipaksa diseret tiap pagi menuju lokasi kerja, realitas timbul tenggelam karena otak butuh waktu berduka cita. Dan pilihan jalan hidup saya tidak memberi tempat pada ilusi apalagi delusi. Tiap gelombang datang, hal terbaik yang bisa saya lakukan cuma menyebutkan situasi apa adanya; saya dalam fase penolakan, saya depresi. Dst.

Saat saya bilang ke seorang kawan, saya depresi, malah saya disuruh pergi olahraga. Tapi saya sedang depresi, kalau saya turuti kata otak alias emosi, tiap hari saya akan tidur sepanjang hari dan bukannya pergi ke kantor apalagi cerita bahwa saya depresi dengan setengah cengengesan setengah meringis. Tapi habituasi manusia memang berusaha mengalihkan perhatian dari kondisi saat ini, dan gerakan itu sendiri (termasuk olahraga) sudah terkenal berfungsi seolah-olah menutupi kesakitan; “O saya baik-baik saja, tidak apa-apa. Setelah olahraga saya akan jadi ceria. I’ll be just fine.”

Well, I am not fine. My mother just died.

Sehari-hari orang-orang susah menerima saat dikasih kabar bahwa seseorang sedang dalam kondisi buruk secara mental. Jadi malah sibuk mencarikan alternatif mengalihkan perhatian ke apa saja deh. Padahal mengalihkan perhatian macam ini cuma efek/ tipuan sementara, bukan solusi.

Dalam minggu-minggu terakhir ini saya belajar memaknai Jalan Tengah (Middle Way) dengan konteks pengalaman hidup baru; kehilangan.

Nirvana is not when suffering stops, but when suffering stops bothering you

Bukan eradikasi dukkha, tapi kerelaan untuk hidup bersama dengan dukkha. Saat dukkha tidak lagi ditolak apalagi dimaki-maki, tapi dibukakan pintu dan dipersilakan masuk.

This is the real atapi sampajano satima.

3 Comments leave one →
  1. June 15, 2012 07:28

    Sabbe sankhara anicca.

    Everything that arises passes away. Sungguh banyak perpisahan kita telah saksikan sepanjang hidup ini. Kematian, perceraian, putus pacaran, sampai dengan perpisahan dengan materi, kemalingan, kecopetan. Saat perpisahan terjadi, biasanya saya mencoba mengingat kembali, kapan saya bersua dengannya.

    Tahu sudah saya sedari kecil bahwa setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Baru belakangan saya bisa pahami dan alami sendiri bahwa perpisahan tidak mungkin terjadi tanpa diawali pertemuan. Benar, hanya dibalik saja tapi implikasinya besar sekali. Kenapa? Karena penderitaan hanya fokus pada episode perpisahan saja. Saat bersua dengan apapun tanpa sadar kita memaknainya sebagai kebahagiaan, atau setidaknya kesenangan. Salam jumpa selalu menyenangkan. Tidak ada budaya yang tidak merayakan perjumpaan, kelahiran anak, meski variasi berbeda antar tempat dan berubah seiring waktu, bisa disimpulkan dalam satu kata: syukuran! Bahagia karena perjumpaan.

    Tanpa sepenuhnya sadar, pada tiap episode perjumpaah, sesungguhnya kita sedang mendatangani kontrak satu pasal: bahwa suatu ketika, cepat atau lampat kita akan berpisah, say GOODbye meski rasanya BAD. Repotnya, pasal itu hanya ada dua ayat: saya yang meninggalkan, atau dia (orang dan barang) yang pergi. Yang jelas, saat bersua saya tidak bisa tidur karena senang, saat berpisah pun saya tidak bisa tidur karena sedih. Sungguh aksi yang terlambat. Harusnya saya menangis saat berjumpa! Hitung-hitung menangis dibayar dimuka, down payment! Bodohnya (lagi) jika menangis sambil bilang: kenapa kita berjumpa jika akhirnya harus berpisah. Yeah, what can I say? Itu harga yang harus dibayar untuk pertemuan.

    Nanu bhikkhave yadeva tumhākaṃ sāmaṇ ñātaṃ sāmaṃ diṭṭhaṃ sāmaṃ viditaṃ tadeva tumhe vadethāti?
    Monks, isn’t it just what you know for yourself, see for yourself, and understand for yourself that you talk about?

    Memang semua harus dialami sendiri. Dan tak perlu harus kuat :)

    May you always be happy. Saddhu.

  2. winnda permalink
    September 1, 2012 10:27

    sabar yaa, tdk ad yg bisa kita lakukn sbg hamba-Nya yg lemah selain b’pasrah terhdp semua takdir hidup yg di tayangkn disetiap episode hdp kita. Lapangkn dada seluas smudra biru agr skit y. tdk terlalu terasa mndlm menyayatmu krn apapun takdir hdp yg trjadi hdp msh akn terus berlanjut…! smile please ^^

  3. March 3, 2013 17:31

    I’m sorry for your lost, Mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: