Menunggu Kapal karam

Setiap orang tentunya ingin bahagia. Walau kata bahagia itu sendiri seringkali rancu, dicampur aduk dengan kemapanan secara material. Di saat manusia mengalami hidup di mana beban dan tanggung jawab terus bertambah, meningkat pula kebingungan dan pencarian akan kebahagiaan.
Bukan satu dua orang bertanya,
“Bagaimana caranya hidup lebih bermutu?”,
“Bagaimana caranya menjadi manusia yang lebih baik?”
“Bagaimana caranya menemukan makna hidup?”
Komentar saya standar, “Meditasi. Itu cara yang paling efisien dan efektif.”
Respon yang diberikan penanya pun standar, “Hahaha, kayaknya gue belum butuh.”
Jadi kapan baru mau merasa butuh/ kepepet?
Seumpama belajar meditasi diumpamakan orang belajar berenang. Secara hidup ini penuh ketidakpastian, layaknya orang berlayar tiap hari bertemu badai di tengah laut. Apakah harus menunggu kapalnya karam, baru merasa butuh, baru mau belajar renang?
ketika akal dan rasio sudah menjadi Tuhan, maka cara-cara spiritual transenden tak lagi punya tempat dalam kehidupan manusia.
Ternyata saran meditasi itu tidak berlaku untuk semua orang. Ada orang-orang tertentu yang tidak bisa membedakan antara meditasi atau bukan. Mungkin karena tidak serius, mungkin juga karena kehidupannya sudah meditatif.
alo bos, salam kenal


tulisannya bagus banget
btw tukeran link yuk
ditunggu kabar baiknya ya
tibaknya mingsih aktip toh…
^ masih tapi kembang-kempis hihihih
Yo’i. Itu sebapnya saya lebih suka bergerak pas hari H-deadline, langsung power-up! Hari-hari selebumnya yaa… apa lagi kalau ndak leha-leha alias prokrastinasi. ~♫
Eh, ya ampun, belum diupdeit jugak? Sudah 4 bulan? O_o
mau komen tapi ndak mau apdet, huh!
*mo-bilang-kangen-tapi-jaim*
Naik kapal setahun sekali juga enggak.
Kalau makan,paling enggaknya saja, 1 hari sekali sudah pasti.